Oleh : Wahyu Nugroho
Semburat jingga menghas awan, bersama tiupan angin. Perlahan dan
menyejukan. Mentari seakan ingin cepat menghilang di barat sana. Waktu
sangat cepat berlalu, ingin rasanya ku perlambat hingga aku bisa
menjalankan jadwal sesuai rencana. Seringkali ku terlambat, seringkali
agenda-agenda saling bertabrakan. Terkadang ingin kusesali diri ini,
mengiyakan amanah-amanah organisasi yang diberikan kepadaku, namun
disatu sisi aku senang, karena banyak pengalaman yang kudapatkan.
Sore itu, seperti biasa aku keluar dari ruang ormawa kampus setelah
berdiskusi ringan dengan kawan-kawan. Kususuri koridor yang
menghubungkan pendopo kampus dan deretan ruang kelas di sebelah barat.
Ku berjalan perlahan, ingin rasanya menikmati sedikit hembusan angin
sore, setelah pengap yang terasa di dalam ormawa. ingin rasanya ku
pandangi lebih lama bunga-bunga dan tanman yang menghijau itu setelah
lama kuberada di sana. Ruang itu terkadang membawa bahagia, semangat,
dan juga kebersamaan namun terkadang juga tempat itu membawa duka,
memberi derita, dan juga putus asa.
Wanita berkerudung putih dan baju gamis sendiri di sudut pendopo.
Sudah tiga hari ini setiap sore ia ada dsana. Diam dan sendri. Hanya
termenung memandang rerumputan di sebelah barat pendopo. Aku terheran
dengan apa yang dilakukannya, sesekali menerka apa yang dia pikirkan,
sesekali ku menduga apa yang dia pandang. Ku lihat sekitar pendopo,
hanya rerumputan, lapangan badminton, kolam ikan dan juga tumbuhan
beserta bunga yang menghiasi. O ya, aku terlupa satu hal. Merpati putih.
Merpati puth. Bersih dan indah. Berterbangan d rerumputan, kepalanya
mematuk-matuk tanah mencari makanan, terkadang menoleh-nolehkan
kepalanya dan kembali mematuk-matukkan kepalanya ketanah. Ia terbang
dari satu sisi ke sisi yang lain, tak jauh hanya beberapa meter
jaraknya. Tak kusangka aku berhenti berjalan, berdiam diri di koridor
dan memandangi merpati putih. Sama seperti yang dilakukan wanita itu.
Diam dan memandang merpati. Aku tersadar dari lamunanku dan kulanjutkan
langkahku menuju tempat kos.
Sore di esok hari, mentari bersinar lebh cerah, bayang tetumbuhan
terlihat lebh jelas. Di sudut pendopo dengan dengan warna kerudung yang
sama, putih dan baju gamisnya. Tak biasanya dia di sana. Dia memang
pendiam, namun ramah dan menyenangkan saat berbicara dengannya. Kutahu
dia saat saat pelatihan leadership yang di selenggarakan fakultas, pada
saat itu aku sekelompok dengannya. Begitu juga saat kulihat dia
bercengkerama dengan teman-temannya.
Saat itu aku berjalan masuk dari timur pendopo. Jadi dengan jelas
kulihat dia dari belakang dengan latar rerumputan dan juga burung
merpati. Aku terheran, apa yang ada dalam benaknya. Ia tak mengubah
posisi duduknya, tak beranjak dari tempat itu, tak juga menggenggam HP
sebagaimana kebanyakan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Ia hanya duduk
sendiri, memandangi merpati hingga suara panggilan mengalun syahdu,
tanda siang berganti malam, pertanda tiap insan harus segera mengambil
wudhu lalu menghadapNya.
Kala itu aku duduk di sisi lain pendopo, namun aku masih di
belakangnya dan agak jauh hingga ia tak sadar bahwa ada orang lain d
pendopo itu. Kulihat dirinya, kuihat juga merpati itu. Tak berapa lama
kemudian, mendung tipis menyelmuti, perlahan bayang itu tak jelas
adanya. Menyatu dalam redupnya cahya sore.
Angin berhembus, sedikit kencang dari sebelumnya. Kupandang dedaunan
yang tertiup angin itu. Kupandangi pepohonan itu condong mengikut kemana
angin berhembus. Kupandangi dedaunan yang berjatuhan. Semuanya begitu
menyejukan terlebih dengan tokoh utama di halaman barat pendopo itu.
Merpati putih.
Ah bodohnya aku selama ini. Bagaimana bisa pemandangan yang
menyenangkan dan menyejukan seperti ini tak pernah kunikmati. Hampir dua
tahun ku di sini, tak pernah kurasakan kedamaian dan ketenangan kampus
sebelumnya. Mungkin karena tugas-tugas, mungkin karena organisasi,
mungkin karena tuntutan-tuntutan hidup lainnya. Karena kau adalah
lelaki, karena kau adalah anak pertama, karena kau adalah harapan
keluarga. Ah! Kata-kata itu mungkin yang menyebabkan ku tak bisa
menikmati indahnya sore, mungkin karena itu aku tak pernah menggubris
burung merpati yang putih, mungkin karena itu juga tak pernah ku
pandangi dedaunan yang terhembus angin d sore hari, terlebih menikmati
indahnya mentari tenggelam di pantai. Aku tak sempat melakukan itu
semua.
Oh.... beginilah indahnya sore. Ketika manusia memikirkan hal-hal
yang besar, terkadang ia lupa pada yang kecil. Kuteringat bahwa aku tak
sendri. Wanita itu mash di sana, seperti saat ku datang tadi. Apakah
yang dia rasakan? Masalah? Beban hdup? Putus cintakah seperti anak muda
pada umumnya? Atau apa?
Ku tak bisa memahami. Tak mudah menebak hati. Namun kni sedikit ku
mengerti, kenapa dia selalu disini memandangi merpati, sedikit
kumengerti akan risaunya hati, sedikit kumengerti akan makna sore hari.
Suara adzan mengalun sendu, merasuk tiap kalbu dengan begitu lembutnya,
menyadarkan pada manusia siapakah dirinya. Aku dan juga wanta itu
beranjak dari tempat duduk tuk memenuhi panggilanNya, karena kami adalah
manusia biasa.