Rabu, 24 Februari 2016

Senja Pascasarjana 1

oleh wahyu nugroho

sebelumnya aku menyesal sudah tidak lagi menulis seperti dulu.

pada awalnya saya berniat untuk kembali giat menulis, mencatat kisah perjalanan saat menmpuh Pascasarjana di UNY seperti web cakshon.com. tapi seperti biasa niat hanya sekedar niat hmmn...

tak terasa hampir dua tahun, kini saya memasuki semester 4 dimana sudah tidak ada lagi mata kuliah atau teori yang harus ditempuh.tinggal selangkah lagi, the last step, THESIS.

sebelum membahas masalah thesis, saya ingin menyampaikan sedikit penyelasan ketika kegiatan menulis saya berhenti.ketika itu saya terlalu menikmati perkuliahan, menimba ilmu dari sumber buku teks langsung berupa bahasa inggris. saat itu saya begitu kesulitan, sehingga sebagian waktuku dihabiskan untuk memahami isi buku. Namun itu sungguh menyenangkan bagiku. untuk pertama kali membuat makalah untuk presentasi saya memerlukan waktu satu minggu, luar biasa dibandingkan ketika waktu S.1 dulu.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Turis dan Burjo

oleh wahyu nugroho


haloooo, dah lama ga ngeblog lagi, terlalu sibuk kuliah #NyariAlibi. kakean alesan wkwk, langsung ja nih pengen share cerita...

pada suatu hari...
sik... ga da kata lain selain "pada suatu hari" ?_?, 
woke tak ganti..

alkisah...
ni mau cerita hikayat??, 
bukan cerita kemaren di burjo...
mbok langsung ae kang...

iyee, rewel amat. langsung prend, jadi waktu itu lagi mburjo -bkin istilah sendiri- ada turis asing beli beli gorengan molen... beli gorengan apa molen? molen kan juga di goreng om, ya juga sih... perlu diketahui juga penjual burjonya baru, kyaknya baru ke jogja, sebelumnya bukan dia yang jual.kemungkinan lulusan smp, masih lugu and unyu-unyu (kata unyu-unyu mohon tidak dipermasalahkan).

sembari sang turis milih-milih, da pembeli laen bilang "ngomong ae 5rb" sambil memberi isyarat dengan kelima jarinya, mas burjonya berpikir keras, disatu sisi ia berpikir ini salah karena harganya terlalu mahal untuk 4 buah molen, disatu sisi "ini kesempatan bro, biar dpet untung banyak" dia diam dan masih berpikir seakan sedang menunggu pertanyaan dari penguji skripsi.. setelah selesai memplastiki molennya, turis itu bertanya dalam bahasa indonesia
Berapa?
-5rbu sambil memberi isyarat dengan tangannya berharap turis itu mengrti
hah? kebanyakan
-ya sudah, 2500
nah iya segitu

hahaa ternyata bulenya dah bisa bahasa indonesia, kaga bisa di boongin... terkadang ketika ada kesempatan, seseorang akan berusaha mencari keuntungan sebesar-besarnya, meski itu merugikan konsumen. just be honest, kan enak jujur itu ga bikin rugi, ga bikin penyesalan, ga bikin bingung... menjadi manusia yang jujur, apa adanya, ga neko-neko, simple.

Rabu, 15 Oktober 2014

Guest Lecturing with Prof. Harri Lappalainen Turku University, Finlandia

oleh wahyu nugroho

 Yogyakarta, 13 Oktober 2014

Setelah dua hari mengikuti International Conference on Fundamentals and Implementation of Education 11-12 Oktober di Universitas Negeri Yogyakarta, dengan berbagai pembicara kini kami mahasiswa Pascasarjana Pendiidkan Dasar UNY diwajibkan mengikuti guest lecturing bersama Prof Harri Lappalainen. Beliau juga menjadi pembicara utama di konferensi kemarin. Ada beberapa point yang saya catat,

ra sah kesuen langsung wae kang...

woke..wokee langsung aja daripada kelamaan heee…

Prof Lappalainen yang selanjutnya akan disebut Prof biar singkat, mengawali dengan budaya di finlandia sangat berbeda dengan di Indonesia. Quite talk, just direct to the business. Misalkan dalam pemasaran, jika di Indonesia penjual produk harus ‘dekat’ terlebih dahulu dengan konsumen, harus akrab dulu, secara psikologis nyaman baru dapat menjual produk dengan baik, jika di findlandia “ini saya punya produk seperti ini, anda mau beli berapa?”


Banyak orang yang mengatakan bahwa finlandia adalah Negara dengan pendidikan yang terbaik, namun Prof mengatakan kami tidak merasa pendidikan kami yang terbaik, tetapi kami meyakini kami berada di jalur yang benar. Top rank in education, that not the case! Sebetulnya 40 tahun Finlandia bukanlah negara yang baik di bidang pendidikannya, tetapi kami paham betapa pentingnya pendidikan.

Pendidikan di Finlandia seluruhnya gratis, jadi jika ada yang bertanya tentang beasiswa di finlandia Prof bilang dia bingung gimana jawabnya, karena semuanya gratis selama dia lolos tes. Gratis ?? jadi pengen kesana hee… *Mupeeeng

suatu saat nanti aku pengen banget kesana, mesik bukan sebagai mahasiswa hee... Europe, Holland n Finland.. maybe someday :D

Wah, sayang sekali gan kepotong… nanti ane lanjutin nulis lagi tentang inovasi di pendidikan disana..

Finlandia sangat konsen pada kualitas pendidikan. Mereka mengerti, tidak, lebih tepatnya memahami pentingnya pendidikan. Prof bertanya apa kunci utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan? Semua hadirin hening, sepertinya itu pertanyaan yang akan dijawab oleh prof sendiri, beliau melanjutkan Teacher, teacher and teacher. Teacher is the key!

Kami meningkatkan kualitas pendidikan dimulai dengan meningkatkan kualitas pendidikan guru. We are guarantie the qualitie. Mereka benar-benar menjamin kualitas pendidikan untuk para guru. Kualitas pendidikan di seluruh finlandia juga tidak jauh berbeda, gap antar lembaga pendidikan hanya bekisar 7% jadi tidak jauh berbeda antara yang satu dan yang lain.

Pertanyaannya adalah mengapa kamu ingin menjadi guru itu yang penting. untuk memiliki mindset yang baik sangat penting. mindset yang paling penting bagi guru ialah sebagai pembelajar. You have to learn more and more, baik itu di lingkup formal maupun informal. Sejenak saya memandang realita di Indonesia, ketika seseorang sudah menjadi guru seakan dia berhenti belajar. Hidupnya berubah hanya sekolah dan rumah. Bahkan yang penting menuntaskan kewajiban, sekedar mengajar.

Kualitas pendidikan kita buruk karena kesejahteraan guru tidak diperhatikan. Pernyataan ini tidak benar, meski tidak sepenuhnya salah. Sertifikasi, salah satu cara agar guru mendidik dengan professional, dengan bayarin dua kali lipat tidak menjamin kualitas pendidikan secara otomatis menjadi berkualitas. Prof mengapresiasi pemerintah Indonesia yang memberikan perhatian khusus pada kesejahteraan guru. Prof melanjutkan cerita bahwa di finlandia gaji guru tidak bisa dibilang tinggi meski tidak rendah, tapi cukup kata Prof, yang paling penting mindset cause it crucial!

Aku kembali terhanyut dalam lamunanku. Guru-guru yang sudah bersertifikasi tidak ubahnya seperti guru biasa, banyak yang tidak professional, meski gajinya sudah besar ia gunakan untuk membuka usaha sampingan, membangun rumah, mencicil mobil dan motor, dan lain sebagainya. Membuka usaha? Ya ada juga yang membuka usaha sampingan dari uang sertifikasi tersebut, akhirnya sebagian waktu dihabiskan untuk usaha tersebut. saya tidak mempermasalahkan untuk apa uang itu, kan kesejahteraan, jika itu yang mereka butuhkan tidak masalah, akan tetapi dalam pengajarannya tidak jauh berbeda. Tidak memberikan contoh pada yang lebih muda, bahkan pada guru wiyata bakti.

Banyak tugas-tugas malah dibebankan pada guru wiyata bakti (curhatan teman saya) meski digaji hanya 150-300rb namun beban kerja administrasinya lebih besar daripada guru-guru yang sudah PNS apalagi guru yang sudah bersertifikasi tersebut, malah yang bersertifikasi itu begitu mudahnya meninggalkan kelas, memulangkan siswa lebih awal dan tidak berangkat ke sekolah. hee maaf malah bahas sertifikasi, kesel banget ma guru yang begitu hee... tidak semua, tapi banyak hee. Salah satu yang tidak teman saya satu kelas di Pascasarjana, dia PNS guru SD di Kab. Bantul dan dia menggunakan uang sertifikasi untuk melanjutkan studi S.2 saluuuut mbak (y) *emot jempol

Kembali ke inovasi…

Selain meningkatkan kualitas guru, Findlandia juga melakukan inovasi pada pendidikan. Salah satunya system pendidikan yang fleksibel. Salah satu contohnya si X (saya lupa namanya) sebut saja Marjono dia hanya selesai di tingkat secondary setingkat SMP, setelah itu dia tertarik dengan truck dan lorry *tulisane ra ngerti hehee.. dia melakukan hobi tersebut sekitar 4-5 tahun. Kemudian dia bosan dan ingin kuliah. Lalu dia datang ke universitas kami (Turku University) kata Prof dan dia diterima, selesai menempuh Sarjana dia melanjutkan ke pascasarjana dan sekarang dia sudah bergelar doctor.

Pendidikan di sana lebih sangat menghargai inovasi dan ide-ide baru. Mahasiswa misalnya langsung dilibatkan dalam permasalahan dilapangan. Missal perusahaan telekomunikasi memiliki permasalahan pemasaran, maka perusahaan tersebut bekerjasama dengan universitas dan melemparkan masalah tersebut ke mahasiswa. Jadi mahasiswa dan perusahaan bekerjasama menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Keuntungan didapatkan kedua belah pihak. Tidak hanya teori tapi langsung praktek dilapangan. Tidak hanya sekedar berkoar-koar masalah inovasi tetapi langsung menjadi bagian dari proses inovasi tersebut.

Setiap orang memiliki skill sendiri-sendiri, ada orang yang mampu membuat program komputer dengan sangat baik, tapi kemungkinan besar dia tidak pandai dalam hal marketing, penjualan, dan promosi. Setiap orang biasanya hanya menonjol pada satu keterampilan saja. Tidak bisa inovasi hanya dilakukan satu orang saja, maka dari itu harus bergabung menjadi sebuah grup yang memiliki keterampilan yang berbeda. Ada orang yang pandai berbicara tetapi ia tidak bisa menulis dengan baik, maka diperlukan orang yang ahli dalam menulis. Sebuah grup yang baik diharuskan anggotanya lintas disiplin ilmu!

Inovasi tidak harus sesuatu yang besar, yang paling baru, belum pernah ada, gila, tetapi sesuatu yang tidak gila, peningkatan kecil, langkah-langkah kecil tetapi terus menerus dan berkesinambungan.

Kamis, 09 Oktober 2014

Buku dan Sarjana

oleh : wahyu nugroho

Seperti kata pepatah “Buku adalah jendela dunia”. Dengan buku kita bisa mengenal dunia, berpikiran luas memiliki banyak sudut pandang dan perspektif, dan juga sebagai investasi masa depan. Buku adalah harta terpendam, tidak sama dengan harta seperti perhiasan, rumah, uang dan lain sebagainya, karena buku adalah harta tak terlihat. Harta itu ialah ilmu, yang seharusnya semakin banyak ilmu semakin rendah hati pula orang itu. Tapi sayang banyak orang berilmu hanya untuk menipu, menipu rakyatnya, menipu koleganya, menipu pimpinannya, menipu temannya dan juga raykat menipu pemerintahannya.
Saat ini banyak sarjana tak layak menyandang gelar sarjana, hanya karena selembar kertas itulah ia disebut sarjana. Sarjana premature; begitulah sebutannya, seseorang yang belum siap masuk ke ‘dunia’ sudah masuk kedunia itu. Gagap dan tak bisa berkutik. Lalu apa hubungannya antara buku dan sarjana?
Banyak mahasiswa tidak memahami dan menyerap ilmu selama jenjang S.1. Tak bisa dipungkiri budaya copy-paste sudah menjangkit mahasiswa saat ini. Tidak semua memang tapi banyak yang terjangkit penyakit ini. Tidak lain ini adalah pengalaman penulis sendiri, jadi saya tidak menuduh siapapun karena saya dan lingkungan saya, serta teman saya yang berbeda universitasnya pun mengalami hal ini.
Ketiga ada tugas untuk membuat makalah kalimat-kalimat berikut akan sering muncul, “ntar juga kelar”, “paling semalem juga selesai”, “kan tinggal googling”, “sok rajin”, “tumben baca buku”. Ya, kalimat-kalimat itu menjadi penghalang diri untuk maju, sekali melangkah maju dipatahkan oleh perkataan teman sendiri “tumben baca buku”. Sangat disayangkan sekali karena kita secara tidak langsung mendewakan internet.

Alhasil informasi dan ilmu yang didapat parsial, tidak holistic karena hanya mengutip paragraph-paragraf yang didapat dari internet, tidak secara keseluruhan. Ketika menysusn bab II dan konsultasi dengan DPS dan beliau sangat detail dan tidak sembarang membimbing mahasiswanya, saya ditanya apa bedanya kajian teori dengan mozaik teori? Aku hanya terdiam. Saya hanya mencontoh penyusunan Bab II sesuai dengan skripsi-skripsi yang sudah ada sebelumnya (bukan copas isi tapi penyusunannya). Ternyata itu adalah mozaik teori, yang hanya mengutip pendapat-pendapat semata tanpa ada kajian, layaknya sebuah mozaik, teori yang saya gunakan hanya tempelan-tempelan semata. Saya benar-benar merasa belajar ketika menyelesaikan skripsi. Belajar dengan benar.
Berapa banyak buku yang berhubungan dengan kuliah yang dimiliki mahasiswa?? Bisa dihitung dengan jari. Budaya membaca dan menulis kita sangat jauh. Berbeda dengan jaman sebelum internet dan notebook benda yang mudah dijumpai. Apakah harus dikembalikan seperti jaman dulu, tugas-tugas harus tulis tangan? Meski copas minimal mereka melihat, membaca, dan menulis, setidaknya penyerapan informasi dan ilmu akan lebih besar persentasenya.
Kan sudah ada perpus? Ngapain beli buku? Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya akan tanya balik, apa yang sudah anda pelajari selama kuliah? Jika saya tanya tentang mata kuliah di semester dua dulu masihkan ingat? Mungkin yang di ingat hanya nama mata kuliahnya saja, lalu isinya yang satu semester dipelajari kemana? Ah itu kan Cuma teori, di lapangan teori itu ga di pake. Benarkah seperti itu? mungkin saya singgung di lain waktu. Tapi percayalah, teori itu sangat berguna dan tidak ada ruginya mempelajari teori-teori tersebut.
Ini adalah pengalamanku ketika memutuskan menempuh Pascasarjana. Aku harus mempelajari semua dari awal, tentang teori-teori psikologi, tentang statistika, tentang metode penelitian, tentang filsafat, dan tentang-tentang yang lainnya. Kini aku tidak punya kesempatan untuk menghamburkan uang, selain untuk makan sisanya harus beli buku. Buku referensi untuk kuliah jenjang S.2 ini tidak sedikit bahkan banyak yang tidak ada di pasaran dan toko buku di jogja hahaa… meski sudah hampir dua bulan belum setengahnya dari buku yang wajib saya miliki.. duh…

Jika anda masih duduk kuliah jenjang S.1 belilah buku, mungkin saat ini anda tidak terlalu membutuhkan, tapi suatu saat nanti buku itu berguna. Tanpa buku engkau tak bisa melihat dunia ini. Buku adalah investasi hidupmu.

Selasa, 23 September 2014

Menempuh Hidup Baru

hampir satu tahun blog ini terbengkalai. seperti biasa keinginan menulis itu sangat jarang datang lagi semenjak tersibukkan skripsi tahun kemarin. lalu berlanjut merantau ke pare, meski tidak maksimal dan sesuai harapan setidaknya aku menemukan keluarga baru disana. Meski hanya dua bulan serasa dua tahun. bertemu dengan orang-orang yang luar biasa dan berharap suatu saat akan bisa bertemu dengan mereka lagi.

Menempuh hidup baru tidak selalu harus menikah bukan? bagiku ini adalah hidup baru, sepenggal hidup ini benar-benar baru bagiku. Setelah selesai jenjang S.1 kini aku melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi S.2 masih di universitas yang sama, Universitas Negeri Yogyakarta mengambil jurusan Pendidikan Dasar dengan konsentrasi Bahasa Indonesia.

Banyak hal yang terjadi, bahkan ketika memutuskan untuk menempuh Pascasarjana terjadi perang batin... bahasa anak jaman sekarangnya mah galau, dari mulai belum siap, tuntutan akademik dengan gelar Magister, apa yang bisa kuberikan pada bangsa dan pendidikan negeri ini?? aku tidak ingin hanya menambah pengangguran dan beban negara karena ada yang bergelar S.2 namun hanya sebatas gelar saja. tidak lebih dari itu. dan yang terakhir dan yang paling utama BIAYA!

Orang tua sangat support agar aku melanjutkan study. Sejak masih di SMA Bapak selalu berkata "jangan mengharapkan warisan, karena bapak ga akan ngasih warisan apa-apa. Mending uangnya buat sekolah setinggi-tingginya setelah itu terserah mau apa, Bapak cuma bisa ngasih ilmu" Terimakasih Ya Allah, Engkau memberikanku orangtua yang luar biasa :D

sejak diterima menjadi mahasiswa Pascasarjana UNY aku berniat untuk menuliskan apa yang kupikirkan dan hal-hal menarik lainnya yang kudapatkan selama studi. hehe.. sayangnya itu hanya niat, baru setelah 3 minggu kuliah tepat di hari ini 23 September saat kuliah bersama Prof. Dr. Suhardi, M.Pd beliau berkata "Pemikiran yang baik jika tidak dibahasakan, maka pemikiran tersebut tidak akan bermanfaat"

saat itu kuliah membahas mengenai hubungan berbahasa, berpikir dan berbudaya, ketika pemikiran tersebut hanya disimpan sendiri maka pemikiran tersebut tidak bermanfaat, berbeda jika dibahasakan, diungkapkan entah itu melalui lisan atau tulisan maka ilmu tersebut dapat bermanfaat untuk orang lain. misalkan sebuah ilmu yang kita miliki seperti 'membuat kursi', lalu kita sebarkan ke orang lain maka banyak orang yang akan bisa 'membuat kursi' dan ilmu 'membuat kursi' itu akan berkembang.

ini hanyalah awal, aku akan menceritakan hal-hal menarik lainnya lewat blog ini. semoga bisa bermanfaat untuk orang lain dan menjadi pemaknaan terhadap salah satu frase hidupku.

Minggu, 08 Desember 2013

Setelah Membaca Novel 99 Cahya di Langit Eropa


Akhir-akhir ini sedang booming film 99 Cahaya di Langit Eropa yang diangkat dari novel dengan judul yang sama. Aku teringat saat pertama kali novel ini mulai dipasarkan sekitar 2 tahun yang lalu. Ada seorang yang mereview novel tersebut di buletin kampus, akupun tertarik. aku putuskan untuk membeli novel tersebut.

Ketika sampai di toko buku, ada novel yang terbuka. Aku putuskan membaca sedikit sebelum membelinya, aku takut pada akhirnya akan kecewa. Lembar demi lembar aku baca, namun akut tidak juga menikmatinya, sekitar 50 halaman pertama aku baca, tapi aku tidak tertarik sama sekali. Datar. akhirnya aku memutuskan tidak jadi membelinya.

dua tahun berlalu, novel itu diangkat ke layar lebar. Sebelum melihat film 99 cahaya di langit eropa aku memutuskan untuk membaca novelnya hingga tuntas. Beberapa novel yang diangkat ke layar lebar tidak memuaskan, inti yang ingin disampaikan penulis dalam novel tersebut tidak terwakilkan ketika sudah diangkat ke layar lebar. salah satu film tersebut ialah ‘Cinta Suci Zahrana’ dan ‘Sang Kyai’ yang menurut saya pribadi telah gagal mewakili pemikiran penulisnya (padahal sudah dibela-belain nonton di bioskop -_-). Sehingga aku harus membaca novel sebelum menonton filmnya.

novel 99 Cahaya di langit Eropa sudah kugenggam. Aku baca tapi tidak menarik buatku. Sehari aku hanya mampu membaca 150 halaman pertama, dan aku masih belum menikmati novel ini. Esoknya aku lanjutkan membaca tetap saja membosankan. Datar. Tidak ada yang menarik untuku kecuali pengetahuan-pengetahuan baru mengenai jejak islam dalam peninggalan-peninggalan benda bersejarah.

Aku bingung, ini novel atau buku? Mungkin ini sangat subjektif, tapi itu yang kurasakan. Novel ini terlalu memaksakan dan kurang mengalir bahkan hingga setengah buku pertama aku masih belum menikmatinya. Tidak ada konflik, tidak ada klimaks.

Aku teringat akan lukisan karya Mustofa Bisri (Gus Mus) yang kontroversial “Dzikir Bersama Inul”. Ketika beliau (Gus Mus) dimintai membeberkan makna dan pesan dari lukisan itu beliau menolak. Menurut beliau kalau dia ingin menyampaikan pesan dengan berbicara, kenapa harus melukis? Kenapa tidak sekalian pidato saja? Atau ceramah? Atau nulis buku?

Mungkin buku ini, maksud saya novel ini terlalu vulgar dalam menyampaikan pesan. Sehingga kurang memperhatikan estetikanya. Inilah hambatan-hambatan para penulis yang ingin membuat novel islami, kebanyakan novel islami saat ini lebih memborbardir pembaca dengan Hadist dan ayat Al-Quran, lebih mirip buku kumpulan ceramah ketimbang novel,  mungkin banyak penulis novel islami (yang ikut-ikutan mencoba membuat novel islami setelah meledaknya Ayayt Ayat Cinta) berpikir novel islami ya novel yang banyak Hadist dan Ayat-Nya, bercerita tentang Mesir, Arab dan Timur Tengah, dan memperbanyak kosakata Bahasa Arab. Novel ini tidak terlalu banyak tentang Ayat ayat-Nya, tpi lebih banyak berbicara tentang sejarah.

Saya tidak mengatakan novel ini jelek, novel ini sangat bagus, karena berhasil mengungkap fakta yang banyak orang tidak akan tahu jika novel ini tidak terbit. Tapi sekali lagi, ini subjektifitas saya pribadi.

Saya baru bisa menikmati membaca novel ini ketika penulis memasuki  Bagian III : Cordoba dan Granada. Barulah saya mulai menikmati, ceritanya mengalir, sentuhan sosial masyarakat mulai banyak bermunculan. Pada setengah terakhir novel ini pembaca tidak lagi dibombardir akan fakta-fakta sejarah semata. Ya, saya hanya menikmati setengah dari novel ini.mungkin novel ini lebih cocok jika divisualisasikan.bagaimana menurutmu? sudah baca novelnya atau bahkan sudah nonton filmnya ?_?

Selasa, 19 November 2013

Edit flash wayang puzzle

mentang-mentang skripsiku buat CD Pembelajaran Interaktif temen-temen ngira aku mahir di bidang flash. dan suatu ketika temenku minta aku buat ngeditin flash game puzzle. materinya tentang wayang.

tapi setelah otak-atik 2 minggu aku mendapat kendala. timernya ga bisa nongol brooo...!  tapi tetep jalan. bingung kan?? sama saya juga bingung...

ga tau deh ni jadinya gimana, padahal dah janji ma temen buat ngeditin filenya


inilah penampakan flasnya


Selasa, 05 Februari 2013

Paket Buku Perdana



Alhamdulillah buku untuk saudara-saudara kita yang berada di Indonesia Timur sana, tepatnya di Bajawa, Ngada NTT, sudah terkumpul satu kardus. Insya Allah akan segera dikirim.
akan tetapi ada sedikit kendala kawan. ternyata biaya pengiriman tidaklah murah, oleh karena itu diharapkan kepada teman-teman yang memiliki dana berlebih bisa meyisihkannya untuk biaya pengiriman maupun kelanjutan program ini.
sekedar informasi tambahan. buku yang ada terdiri dari buku komik, beberapa paket mata pelajaran dan buku cerita anak.

untuk yang tergerak hatinya dan berkenan membantu bisa menghubungi saya
wahyu Nugroho
hp: 085727639649
twitter: @mazjey90
blog : http://wahyu90.blogspot.com/p/merdeka-membaca.html

#Merdeka Membaca
"Negara kita memang telah merdeka dari penjajah, tetapi belum merdeka dalam membaca. Karena membaca adalah hak setiap warga Negara."

lebih lanjut mengenai Merdeka Membaca

Kamis, 17 Januari 2013

Merdeka membaca

Catatan Pena: Merdeka membaca: "Negara kita memang telah merdeka dari penjajah, tetapi belum merdeka dalam membaca. Karena membaca adalah hak setiap warga Negara." ...

Minggu, 06 Januari 2013

Media Pembelajaran Interaktif Rangkaian Listrik Sederhana



oleh : Wahyu Nugroho 
PGSD UNY '09

Teknologi informasi saat ini masuk kesemua lini kehidupan, tak terkecuali pendidikan. Inovasi-inovasi dalam dunia pendidikan khususnya pembelajaran di sekolah sudah menjadikan teknologi sebagai alat untuk memudahkan dalam pencapaian pembelajaran tersebut.
Saat ini (semester 7) saya mendapat mata kuliah ICT, dimana saya diharuskan membuat media pembelajaran berbasis computer atau lebih dikenal dengan pembelajaran interaktif. Media pembelajaran ini berbasis flash dan software yang saya gunakan adalah Adobe Flash CS3. Media pembelajaran ini saya buat sedikit berbeda dari biasanya, baik dalam bentuk design, layout dan navigasi linknya
Berhubung saya membuatnya hanya dua hari (wuiiih keren,,, biasa dadakan klo dah deadline baru buat) jadinya hanya membuat bagian simulasi saja.
Media pembelajaran interaktif ini saya buat tidak hanya sebatas link-link yang pindah halaman seperti biasanya, karena saya berpikir itu tidak akan jauh berbeda dengan penggunaan Ms. Office Power Point. Akhirnya saya membuat bagaimana media itu dapat berinteraksi dengan siswa. Siswa tidak hanya menonton saja, tetapi ikut terlibat di dalamnya. Saya membuat media mengenai rangkaian listrik sederhana untuk Sekolah Dasar kelas VI.
Siswa diajak untuk merangkai rangkaian listrik sederhana (seri dan parallel) dengan model drag n drop.
Untuk design n layout saya buat tidak formal dan berwarna warni, memang sengaja saya rancang demikian biar lebih luwes. Tidak kaku.
kelemahan dari media ini adalah bahasa pemrograman yang digunakan adalah puzzle (co-paste bro, gw kaga ngerti bahasa pemrogramannya) saya gunakan bahasa pemgrograman untuk permainan puzzle. sehingga setiap objek harus menempati daerah yang telah ditentukan. maka dari itu saya memberi nama lampu 1 dan lampu 2, karena jika tidak siswa kemungkinan akan tertukar dalam menempatkan lampu dan pada akhirnya lampu tidak bisa menyala. begitu juga dengan baterai 1 dan baterai 2 siswa harus menempatkan pada posisi masing2

Pernah saya berpikir, andai saya dapat membuat web berbasis flash yang menarik dimana di dalamnya ada begitu banyak media pembelajaran berbentuk flash yang dapat digunakan oleh semua orang yang terkoneksi internet. Menjadi portal pendidikan terbesar di Indonesia! (kayaknya bakalan kereeen banget tuh)
akan tetapi kemampuan saya dalam membuat flash masih newsbie dan tidak memiliki kemampuan dalam web design, coding (html, css, java, php, dll) semoga kelak saya akan mewujudkannya. memiliki portal pendidikan terbesar di Indonesia :D

Minggu, 30 Desember 2012

Mengajar dengan hati atau tidak sama sekali



“Bagiku guru adalah satu kata yang penuh makna, suatu pribadi yang rendah hati, jiwa yang kaya raya, yang tak pernah lelah membantu sesama” -Maz Jey- 

Sahabatku, sebenarnya apa sih tujuan kita kuliah? Kenapa sih kita milih jadi guru?. Mungkin sebagian tidak menginginkan menjadi guru (pengalaman.red) dan memang sampai saat ini tidak hanya untuk angkatan muda alias maba alias mahasiswa baru, tetapi juga untuk angkatan tua yang masih bingung akan melangkah kemana??
Karena kebanyakan dari kita masuk kesini (UNY) dengan cara beraneka macam dan tak terduga, mungkin tak disengaja, kesasar, tersesat, terpelosok, disuruh orang tua, ngikut temen, dkk. (Mas kok bahasanya serem ya mpe kesasar n tersesat segala?) Ya memang seperti itu adanya, banyak dari kita yang memang benar-benar tersesat dan tidak memiliki kesempatan serta kekuatan untuk mengubahnya sehingga kita menyesali keberadaan kita di sini dan menyesali karena berada di tempat yang tidak diharapkan. Bagi teman-teman yang masih semester awal, masih wajar-lah,, tapi untuk yang semester tua akan berubah menjadi kurang ajar. Lho,, koq bisa? Ya bisa lah,, bentar lagi mau lulus, mau ngajar, JADI GURU tapi sampai sekarang belum ingin menjadi menjadi guru.
Kita harus mengerti pentingnya peran seorang guru, tapi saya disini tidak akan ceramah panjang lebar mengenai golden age anak-anak, teori perkembangan, psikologi perkembangan maupun filsafat pendidikan sampai kode etik guru dan bagaimana menjadi guru yang baik. Saya cuma ingin mengajak temen-temen membuka memori kita, kenangan kita selama kita menempuh pendidikan. Ayo kita ingat lagi bagaimana cara guru kita mengajar, selama kita di Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA hingga kuliah. Tentu kita menemui guru yang tidak menyenangkan, mengajar dengan se-enaknya, asal-asalan, asal datang asal menerangkan dan asal murid diam tak berisik. Bagaimana rasanya menemui guru yang suka marah, mengajar dengan sesukanya, dan lain sebagainya?
Bagaimana perasaan anda ketika bertemu guru seperti itu? Apakah anda membencinya? Saya rasa iya, apakah anda tidak mengharapkannya? Kalau saya sangat, sangat tidak mengharapkannya, apakah anda menghujatnya dengan cacian dan makian?. Ya, mungkin seperti itulah gambaran perasaan kita dan masih banyak perasaan yang tak terungkapkan ketika menemui guru seperti itu.
Sekarang kita balik, bagaimana jika guru itu adalah kamu? Ya, guru yang dibenci murid-muridnya, guru yang tidak diharapkan kehadirannya, guru yang dicaci dengan makian-makian muridnya sendiri? Bagaimana jika itu semua adalah yang akan kamu alami?
Teman, bukan maksud untuk menakuti, tapi nilah bukti ketika guru mengajar tanpa hati, raganya mengajar tapi hatinya tidak. Jiwa dan raga harus searah dan sejalan, tak bisa dipisahkan. Hanya guru yang mengajar dengan hati yang kan selalu dinanti, hanya guru yang mengajar dengan hati yang kan selalu dirindui. Karna itu, untuk saudara dan saudariku yang masih ragu, mantapkanlah hati kalian, mantapkanlah pilihan kalian, pilih kehidupan untuk menjadi guru, guru yang mengajar dengan hati. Mengajarlah dengan hati atau tidak sama sekali!
Bermain air pasti basah, dan kita diibaratkan telah basah terkena air (masuk ke lingkungan pendidikan) lalu mengapa kau masih menghindari air itu, kenapa kau tak meloncat kedalamnya, meloncat kedalam air (lingkungan pendidikan) dan berenanglah, berenanglah di dalamnya dengan rasa senang, dengan bahagia dan dengan tawa.

Mengajarlah dengan hati atau tidak sama sekali.

Sumber-Cirebon Jawa Barat 26/12/2012

Wahyu Nugroho PGSD ‘09
(Maz Jey)

Tuyem dan KFC

co-past dr temen,, :)

Sebuah cerita org Purwokerto asli
banyumasan telpon mesen KFC

Telfon Pertama
Tuyem : halloo...Kaepsi?
KFC : iya, ada yg bisa di bantu?
Tuyem : ayame ana apa ora?
KFC : oh ada
Tuyem : jajal gawa mrene, di adu
karo ayame inyong!
KFC. : X_X

Telfon Kedua
Tuyem : hallooo...kaepsi?
KFC : iya
Tuyem : delivery order?
KFC : iya
Tuyem : 24jam?
KFC : iya
Tuyem : Oooh hebat ya, kowe ora
tau turu!
KFC :

Telfon Ketiga
Tuyem : hallooo...kaepsi?
KFC : iya...
Tuyem : ayam ana?
KFC : ada
Tuyem : sega?
KFC : ada
Tuyem : es krim?
KFC : ada
Tuyem : burger?
KFC : ada! banyak! komplit!! (bakule
nesu)
Tuyem : esih ana kabeh? ora payu
apa!! =))
KFC : X_X

Telfon Keempat
Tuyem : hallooo.. Kaepsi?
KFC : kowe maning! arep ngledek
maning apa!
Tuyem : woi inyong arep pesen! ya
wis, inyong ora sida pesen lah!
KFC : oh iya! mau pesen apa?
Tuyem : soto sokaraja baen
seporsi !!!
KFC : guoblok temen kowe...!!

Telfon Kelima
Tuyem : hallooo..kaepsi??
KFC. : mesti kowe maning, arep
ngapa kowe?
Tuyem : arep pesen ayam!
KFC. : oh iya! Apa lagi?
Tuyem : ayam karo sega! tapi
mbungkuse dipisah baen yak?
Mengko nek di dadekna siji, segane
entong dithotholi ayame
KFC. : wooooi wong edan! tak
tempiling sisan kowe

Jumat, 28 Desember 2012

aku harus pulang part 3



#24 Des ‘12

Perut sudah minta jatah, tapi masih tetap kutahan, arem-arem 2 dan tahu sudah cukup jadi sarapanku saat berangkat tadi pagi. Yang terpenting bagaimana agar aku cepat sampai rumah. Tak berapa lama kemudian bus eknomi datang. Alhamdulillah aku selamat J perjalananpun berlanjut dari Losari ke Cirebon.
Terakhir kali aku naik bus ekonomi adalah ketika aku akan mengambil no ujian masuk STAN di sebuah kantor keuangan yang bertempat di Jakarta Selatan. Saat itu aku berangkat pukul 1-an dini hari dari Cirebon dengan asumsi suhub sampai di jati bening. Tapi kendala juga terjadi belum keluar dari Cirebon bus mogok dan terpaksa dioper ke bus lain. Bus dengan tujuan merak kalo tidak salah. Dan kami diturunkan di bekasi timur yang pada saat itu aku tak tahu sama sekali daerah Jakarta.
Suasana kelas ‘ekonomi’ dengan kualitas tempat duduk dan suasana bus yang kurang nyaman. Aku masuk dari depan dan kususuir satu-persatu, kursi hamper terisi penuh dan kulihat bagian belakang masih kosong. Tapi pandanganku sempat berhenti sepersekian detik pada seorang wanita, dengan kacamata hitam, jaket jeans, make up tebal, lipstick merona merah. Pemandangan yang tak lazim di bus sekelas eknomi. Dia sendirian, tapi aku enggan duduk disebelahnya. Aku berpikir buruk tentangnya dan mengira dia bukan wanita baik-baik, astaghfirullah, dan akhirnya memilih kursi sebelum paling belakang.
Tak berapa lama sekitar 5 menit bus berhenti, menaikkan seorang wanita. Berumur sekitar 35-40 tahun, dengan penampilan yang sama dengan wanita yang sempat mengalihkanku tadi. Ternyata dugaanku tak salah. Mereka adalah wanita hidung belang, di belakang ada kondektru dan bebera temannya saling menantang siapa yang berani mendekatinya, saling dorong, saling mendorong teman agar maju, sebenarnya mereka (kondektur dan beberapa temannya dengan wanita) itu sudah saling kenal, dunia malam kawan.
Akhirnya satu orang memberanikan diri dan mengajak mengobrol. Tak berapa lama ia kembali ke belakang. dan satu orang lagi menuju ke bagian depan busa sambil meyakinkan teman-temannya tidak apa-apa jika menggodanya sedikit. Saat ada disamping wanita itu, sambil berjalan dia mengelus-elus pipi wanita itu sambil tersenyum, dibarengi dengan gelak tawa teman-temannya dan diapun ke depan menemani supir.
Hati ini panas, jiwa ini gelisah, mungkin bagi mereka itu hal yang biasa, tapi bagiku itu tak biasa dan tindakan biadab. Tidak hanya laki-laki yang biadab, tetapi wanitanya juga. Begitu mudah seorang wanita di sentuh, begitu mudah laki-laki menyentuh wanita, apakah mereka tak berpikir anak dan istri di rumah? Entah jika pemahaman agama mengenai hijab belum kuat, entah jika pemahaman mengenai syariat belum mengenal mereka, tetapi apakah mereka berpikir mengenai keluarganya dirumah? Mengenai kehormatan sebagai manusia? Ah, mungkin aku yang belum mengenal mereka, teringat kembali lagu kupu-kupu malam oleh Titiek Puspa

Oh apa yang terjadi, terjadilah

Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya
Oh apa yang terjadi, terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

Ssekitar 40 menit perjalanan Losari-Cirebon, dan akupun sampai di terminal harjamukti pukul pukul 20.45 untuk naik angkot tujuan sumber aku harus menempuh sekitar 1-2 km, mending naik angkutan dari terminal ke perempatan yang dilalui angkutan tujuan Sumber, cukup dengan membayar 1-2rb dan aku naik angkot tujuan kota sumber dengan biaya Rp. 2.500.
Dan akhirnya, sampailah diriku ini di rumah tercinta pukul 22.00. hmmnn,,, 13 jam perjalanan. Aku melepas rindu sekaligus kesal terhadap keluargaku karena telah menyembunyikan semua yang terjadi selama 2 bulan ini, menemui ponakan kecilku arif, melihat senyum kecilnya lagi, mendengar tawa riangnya kembali dan mengingat segala memori yang tersimpan di rumah ini
Welcome to Cirebon, welcome to Sumber,
Seberapapun buruknya dirimu, rumah (keluarga) adalah tempat dimana akan menerimamu seburuk apapun dirimu J -untuk yang tak lelah berusaha memperbaiki diri-

Joint With