Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Oktober 2014

Buku dan Sarjana

oleh : wahyu nugroho

Seperti kata pepatah “Buku adalah jendela dunia”. Dengan buku kita bisa mengenal dunia, berpikiran luas memiliki banyak sudut pandang dan perspektif, dan juga sebagai investasi masa depan. Buku adalah harta terpendam, tidak sama dengan harta seperti perhiasan, rumah, uang dan lain sebagainya, karena buku adalah harta tak terlihat. Harta itu ialah ilmu, yang seharusnya semakin banyak ilmu semakin rendah hati pula orang itu. Tapi sayang banyak orang berilmu hanya untuk menipu, menipu rakyatnya, menipu koleganya, menipu pimpinannya, menipu temannya dan juga raykat menipu pemerintahannya.
Saat ini banyak sarjana tak layak menyandang gelar sarjana, hanya karena selembar kertas itulah ia disebut sarjana. Sarjana premature; begitulah sebutannya, seseorang yang belum siap masuk ke ‘dunia’ sudah masuk kedunia itu. Gagap dan tak bisa berkutik. Lalu apa hubungannya antara buku dan sarjana?
Banyak mahasiswa tidak memahami dan menyerap ilmu selama jenjang S.1. Tak bisa dipungkiri budaya copy-paste sudah menjangkit mahasiswa saat ini. Tidak semua memang tapi banyak yang terjangkit penyakit ini. Tidak lain ini adalah pengalaman penulis sendiri, jadi saya tidak menuduh siapapun karena saya dan lingkungan saya, serta teman saya yang berbeda universitasnya pun mengalami hal ini.
Ketiga ada tugas untuk membuat makalah kalimat-kalimat berikut akan sering muncul, “ntar juga kelar”, “paling semalem juga selesai”, “kan tinggal googling”, “sok rajin”, “tumben baca buku”. Ya, kalimat-kalimat itu menjadi penghalang diri untuk maju, sekali melangkah maju dipatahkan oleh perkataan teman sendiri “tumben baca buku”. Sangat disayangkan sekali karena kita secara tidak langsung mendewakan internet.

Alhasil informasi dan ilmu yang didapat parsial, tidak holistic karena hanya mengutip paragraph-paragraf yang didapat dari internet, tidak secara keseluruhan. Ketika menysusn bab II dan konsultasi dengan DPS dan beliau sangat detail dan tidak sembarang membimbing mahasiswanya, saya ditanya apa bedanya kajian teori dengan mozaik teori? Aku hanya terdiam. Saya hanya mencontoh penyusunan Bab II sesuai dengan skripsi-skripsi yang sudah ada sebelumnya (bukan copas isi tapi penyusunannya). Ternyata itu adalah mozaik teori, yang hanya mengutip pendapat-pendapat semata tanpa ada kajian, layaknya sebuah mozaik, teori yang saya gunakan hanya tempelan-tempelan semata. Saya benar-benar merasa belajar ketika menyelesaikan skripsi. Belajar dengan benar.
Berapa banyak buku yang berhubungan dengan kuliah yang dimiliki mahasiswa?? Bisa dihitung dengan jari. Budaya membaca dan menulis kita sangat jauh. Berbeda dengan jaman sebelum internet dan notebook benda yang mudah dijumpai. Apakah harus dikembalikan seperti jaman dulu, tugas-tugas harus tulis tangan? Meski copas minimal mereka melihat, membaca, dan menulis, setidaknya penyerapan informasi dan ilmu akan lebih besar persentasenya.
Kan sudah ada perpus? Ngapain beli buku? Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya akan tanya balik, apa yang sudah anda pelajari selama kuliah? Jika saya tanya tentang mata kuliah di semester dua dulu masihkan ingat? Mungkin yang di ingat hanya nama mata kuliahnya saja, lalu isinya yang satu semester dipelajari kemana? Ah itu kan Cuma teori, di lapangan teori itu ga di pake. Benarkah seperti itu? mungkin saya singgung di lain waktu. Tapi percayalah, teori itu sangat berguna dan tidak ada ruginya mempelajari teori-teori tersebut.
Ini adalah pengalamanku ketika memutuskan menempuh Pascasarjana. Aku harus mempelajari semua dari awal, tentang teori-teori psikologi, tentang statistika, tentang metode penelitian, tentang filsafat, dan tentang-tentang yang lainnya. Kini aku tidak punya kesempatan untuk menghamburkan uang, selain untuk makan sisanya harus beli buku. Buku referensi untuk kuliah jenjang S.2 ini tidak sedikit bahkan banyak yang tidak ada di pasaran dan toko buku di jogja hahaa… meski sudah hampir dua bulan belum setengahnya dari buku yang wajib saya miliki.. duh…

Jika anda masih duduk kuliah jenjang S.1 belilah buku, mungkin saat ini anda tidak terlalu membutuhkan, tapi suatu saat nanti buku itu berguna. Tanpa buku engkau tak bisa melihat dunia ini. Buku adalah investasi hidupmu.

Minggu, 08 Desember 2013

Setelah Membaca Novel 99 Cahya di Langit Eropa


Akhir-akhir ini sedang booming film 99 Cahaya di Langit Eropa yang diangkat dari novel dengan judul yang sama. Aku teringat saat pertama kali novel ini mulai dipasarkan sekitar 2 tahun yang lalu. Ada seorang yang mereview novel tersebut di buletin kampus, akupun tertarik. aku putuskan untuk membeli novel tersebut.

Ketika sampai di toko buku, ada novel yang terbuka. Aku putuskan membaca sedikit sebelum membelinya, aku takut pada akhirnya akan kecewa. Lembar demi lembar aku baca, namun akut tidak juga menikmatinya, sekitar 50 halaman pertama aku baca, tapi aku tidak tertarik sama sekali. Datar. akhirnya aku memutuskan tidak jadi membelinya.

dua tahun berlalu, novel itu diangkat ke layar lebar. Sebelum melihat film 99 cahaya di langit eropa aku memutuskan untuk membaca novelnya hingga tuntas. Beberapa novel yang diangkat ke layar lebar tidak memuaskan, inti yang ingin disampaikan penulis dalam novel tersebut tidak terwakilkan ketika sudah diangkat ke layar lebar. salah satu film tersebut ialah ‘Cinta Suci Zahrana’ dan ‘Sang Kyai’ yang menurut saya pribadi telah gagal mewakili pemikiran penulisnya (padahal sudah dibela-belain nonton di bioskop -_-). Sehingga aku harus membaca novel sebelum menonton filmnya.

novel 99 Cahaya di langit Eropa sudah kugenggam. Aku baca tapi tidak menarik buatku. Sehari aku hanya mampu membaca 150 halaman pertama, dan aku masih belum menikmati novel ini. Esoknya aku lanjutkan membaca tetap saja membosankan. Datar. Tidak ada yang menarik untuku kecuali pengetahuan-pengetahuan baru mengenai jejak islam dalam peninggalan-peninggalan benda bersejarah.

Aku bingung, ini novel atau buku? Mungkin ini sangat subjektif, tapi itu yang kurasakan. Novel ini terlalu memaksakan dan kurang mengalir bahkan hingga setengah buku pertama aku masih belum menikmatinya. Tidak ada konflik, tidak ada klimaks.

Aku teringat akan lukisan karya Mustofa Bisri (Gus Mus) yang kontroversial “Dzikir Bersama Inul”. Ketika beliau (Gus Mus) dimintai membeberkan makna dan pesan dari lukisan itu beliau menolak. Menurut beliau kalau dia ingin menyampaikan pesan dengan berbicara, kenapa harus melukis? Kenapa tidak sekalian pidato saja? Atau ceramah? Atau nulis buku?

Mungkin buku ini, maksud saya novel ini terlalu vulgar dalam menyampaikan pesan. Sehingga kurang memperhatikan estetikanya. Inilah hambatan-hambatan para penulis yang ingin membuat novel islami, kebanyakan novel islami saat ini lebih memborbardir pembaca dengan Hadist dan ayat Al-Quran, lebih mirip buku kumpulan ceramah ketimbang novel,  mungkin banyak penulis novel islami (yang ikut-ikutan mencoba membuat novel islami setelah meledaknya Ayayt Ayat Cinta) berpikir novel islami ya novel yang banyak Hadist dan Ayat-Nya, bercerita tentang Mesir, Arab dan Timur Tengah, dan memperbanyak kosakata Bahasa Arab. Novel ini tidak terlalu banyak tentang Ayat ayat-Nya, tpi lebih banyak berbicara tentang sejarah.

Saya tidak mengatakan novel ini jelek, novel ini sangat bagus, karena berhasil mengungkap fakta yang banyak orang tidak akan tahu jika novel ini tidak terbit. Tapi sekali lagi, ini subjektifitas saya pribadi.

Saya baru bisa menikmati membaca novel ini ketika penulis memasuki  Bagian III : Cordoba dan Granada. Barulah saya mulai menikmati, ceritanya mengalir, sentuhan sosial masyarakat mulai banyak bermunculan. Pada setengah terakhir novel ini pembaca tidak lagi dibombardir akan fakta-fakta sejarah semata. Ya, saya hanya menikmati setengah dari novel ini.mungkin novel ini lebih cocok jika divisualisasikan.bagaimana menurutmu? sudah baca novelnya atau bahkan sudah nonton filmnya ?_?

Minggu, 30 Desember 2012

Mengajar dengan hati atau tidak sama sekali



“Bagiku guru adalah satu kata yang penuh makna, suatu pribadi yang rendah hati, jiwa yang kaya raya, yang tak pernah lelah membantu sesama” -Maz Jey- 

Sahabatku, sebenarnya apa sih tujuan kita kuliah? Kenapa sih kita milih jadi guru?. Mungkin sebagian tidak menginginkan menjadi guru (pengalaman.red) dan memang sampai saat ini tidak hanya untuk angkatan muda alias maba alias mahasiswa baru, tetapi juga untuk angkatan tua yang masih bingung akan melangkah kemana??
Karena kebanyakan dari kita masuk kesini (UNY) dengan cara beraneka macam dan tak terduga, mungkin tak disengaja, kesasar, tersesat, terpelosok, disuruh orang tua, ngikut temen, dkk. (Mas kok bahasanya serem ya mpe kesasar n tersesat segala?) Ya memang seperti itu adanya, banyak dari kita yang memang benar-benar tersesat dan tidak memiliki kesempatan serta kekuatan untuk mengubahnya sehingga kita menyesali keberadaan kita di sini dan menyesali karena berada di tempat yang tidak diharapkan. Bagi teman-teman yang masih semester awal, masih wajar-lah,, tapi untuk yang semester tua akan berubah menjadi kurang ajar. Lho,, koq bisa? Ya bisa lah,, bentar lagi mau lulus, mau ngajar, JADI GURU tapi sampai sekarang belum ingin menjadi menjadi guru.
Kita harus mengerti pentingnya peran seorang guru, tapi saya disini tidak akan ceramah panjang lebar mengenai golden age anak-anak, teori perkembangan, psikologi perkembangan maupun filsafat pendidikan sampai kode etik guru dan bagaimana menjadi guru yang baik. Saya cuma ingin mengajak temen-temen membuka memori kita, kenangan kita selama kita menempuh pendidikan. Ayo kita ingat lagi bagaimana cara guru kita mengajar, selama kita di Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA hingga kuliah. Tentu kita menemui guru yang tidak menyenangkan, mengajar dengan se-enaknya, asal-asalan, asal datang asal menerangkan dan asal murid diam tak berisik. Bagaimana rasanya menemui guru yang suka marah, mengajar dengan sesukanya, dan lain sebagainya?
Bagaimana perasaan anda ketika bertemu guru seperti itu? Apakah anda membencinya? Saya rasa iya, apakah anda tidak mengharapkannya? Kalau saya sangat, sangat tidak mengharapkannya, apakah anda menghujatnya dengan cacian dan makian?. Ya, mungkin seperti itulah gambaran perasaan kita dan masih banyak perasaan yang tak terungkapkan ketika menemui guru seperti itu.
Sekarang kita balik, bagaimana jika guru itu adalah kamu? Ya, guru yang dibenci murid-muridnya, guru yang tidak diharapkan kehadirannya, guru yang dicaci dengan makian-makian muridnya sendiri? Bagaimana jika itu semua adalah yang akan kamu alami?
Teman, bukan maksud untuk menakuti, tapi nilah bukti ketika guru mengajar tanpa hati, raganya mengajar tapi hatinya tidak. Jiwa dan raga harus searah dan sejalan, tak bisa dipisahkan. Hanya guru yang mengajar dengan hati yang kan selalu dinanti, hanya guru yang mengajar dengan hati yang kan selalu dirindui. Karna itu, untuk saudara dan saudariku yang masih ragu, mantapkanlah hati kalian, mantapkanlah pilihan kalian, pilih kehidupan untuk menjadi guru, guru yang mengajar dengan hati. Mengajarlah dengan hati atau tidak sama sekali!
Bermain air pasti basah, dan kita diibaratkan telah basah terkena air (masuk ke lingkungan pendidikan) lalu mengapa kau masih menghindari air itu, kenapa kau tak meloncat kedalamnya, meloncat kedalam air (lingkungan pendidikan) dan berenanglah, berenanglah di dalamnya dengan rasa senang, dengan bahagia dan dengan tawa.

Mengajarlah dengan hati atau tidak sama sekali.

Sumber-Cirebon Jawa Barat 26/12/2012

Wahyu Nugroho PGSD ‘09
(Maz Jey)

Selasa, 29 Mei 2012

Ujian untuk Generasi Dini


kian hari negeri ini terus d uji… belum ujian yang satu usai, ujian yang lain datang lagi. seorang dosen dalam mata kuliah Pendidikan adalah benteng terakhir bangsa. Dengan pendidikanlah kita akan hadapi berbagai cobaan itu
namun anak-anak masa ini penuh dengan ujian, baik itu budaya, kebiasaan, teknologi dan informasi, dan sebagainya. saya ingin menceritakan kondisi anak SD pada masa sekarang. dalam teorinya anak SD bergaul dengan siapa saja, tak pilih-pilih teman, tidak ada kelompok-kelompokan atau geng-gengan. tapi tadi pagai seorang temanku yang ke SD untuk kegiatan Real Pupil* (29/5) mereka sudah membentuk geng ataupun kelompok. saat teman saya sduah memberikan materi dan waktu masih tersiswa anak-anak ingin bernyanyi, lalu teman saya mempersilakkan untuk menunjukkan bakatnya, namun ternyata kelompok anak pertama maju, mereka bernyanyi dan menari mengikuti lagu dan gaya girls band. bukan lagu-lagu nasional, lagu anak-anak apa lagi lagu daerah.
anak-anak mulai berpikiran pragmatis dalam berhubungan sosial, sudah mulai menghitung-hitung untung dan rugi jika berteman dengan si A atau dengan si B.

setelah itu mereka mengatakan ada kelompok lain lagi yang ingin menari, dan mereka meniru group yang lainnya. mereka juga mengganti lirik lagu balonku ada lima menjadipacarku ada lima. hal ini tidak terjadi di kelas IV yang d ajar temanku, tetapi kelas sebelah (kelas III) juga  sama. ternyata korean wave, K-pop atau apapun namanya berpengaruh sangat besar pada bangsa ini. saya tidak mengatakan budaya korea buruk, tapi lihatlah dampaknya belasan tahun yang akan datang. generasi kita menjadi generasi seperti pa? belum lagi kebebasan mengguanakan hp yang terkoneksi internet, orang tua tak tahu site mana saja yang mereka kunjungi tiap hari, obrolan apa saja di bbm mereka dan lain sebagainya.
dimana kelak mereka yang akan menggantikan generasi yang sekarang berkuasa, lalu di ganti dengan generasi muda lalu pada generasi merekalah (anak-anak pada masa sekarang) estafet kepemimpinan bangsa akan berganti. diharapkan kepada para orang tua untuk lebih memperhatikan kegiatan dan aktifitas anak-anak :)
bagaimana pendapat pembaca sekalian ??

*)Real Pupil, kegiatan akhir dari mata kuliah micro teaching. kegiatan ini mengajar langsung di SD sebagai bekal untuk program PPL

Sabtu, 11 Februari 2012

Permasalahan Ujian

Permasalahan Ujian Nasional tak kunjung menghilang. Dari tahun ketahun terus terjadi perdebatan, dari mulai di kementrian hingga tukang becak di jalanan yang anaknya sedang sekolah. Semua ramai membicarakan ujian.
Kritikan tajam dan penolakan Ujian nasional selalu menghujam pemerintah ketika hari-hari ujian semakin dekat. Pemerintah tak adillah, tak manusiawilah dan lain sebagainya, mereka yang menolak beralasan sangat tidak pantas waktu sekolah 3 tahun hanya ditentukan oleh beberapa hari.
Pemerintah terus berupaya untuk menyempurnakan ujian nasional ini. Format penilaianpun telah disiapkan dan kini formula 60+40-lah yang digunakan. Apakah masalah dan perdebatan Ujian Nasional akan berakhir? Tidak, setiap kebijakan pasti ada kelemahan dan perdebatan ronde selanjutnya dimulai.
Dengan penggunaan formula 60+40 diharapkan tingkat kecurangan saat ujian akan menurun. Ya kemungkinan itu mungkin terjadi namun tidak menghilangkan kemungkinan juga untuk tetap terjadi kecurangan seperti ujian nasional tahun-tahun sebelumnya. Kemungkinan kecurangan itu masih ada, bahkan kini “kecurangan-kecurangan” baru mulai bermunculan. Kecurangan itu akan merambah ke sekolah, yang pada awalnya hanya saat ujian saja kini meluas hingga ke sekolah-sekolah. kecurangan dalam bentuk pemberian nilai bukan pada pemberian atau jual beli jawaban lagi.
Ujian Sekolah adalah wewenang sekolah, dengan kata lain tidak ada campur tangan dan pengawasan selain guru sekolah itu. Dalam usaha untuk mengurangi tindak kecurangan ujian nasional pemerintah melibatkan perguruan tinggi dalam pengawasan pelaksanaannya. Hal ini sangat berbeda dengan ujian sekolah dimana pengawasan sangat longgar. Sangat dimungkinkan guru meng-katrol nilai siswanya sendiri agar lulus dan mendapat ijazah. Inilah kemungkinan yang paling mungkin terjadi.
Kita harus kembali ke belakang dan mencari alasan atas terjadinya suatu kecurangan. Berbagai tindak kecurangan sulit dihilangkan walau berbagai upaya telah dilakukan. Hemat saya kesalahan bukan terletak pada Ujian Nasional yang hanya beberapa hari, bukan Ujian Sekolah, bukan pula formula 60+40, namun ada permasalahan yang lebih besar dari itu dan sekarang kita semua seakan menutup mata.
Berbagai alasan atas tindak kecurangan itu ialah adanya tekanan rasa malu jika banyak murid yang tidak lulus dan akan mempertaruhkan nama baik sekolah, status sekolah yang berstandar nasional atau rintisan sekolah berstandar internasional, takut kehilangan peminat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah itu dan guru yang mengajar akan dicap gagal sehingga tindak kecuranganpun seakan dihalalkan.
Akar permasalahan sebenarnya terletak pada kesiapan. Baik itu pendidik maupun peserta didiknya tidak siap dalam menghadapi Ujian Nasional. Sebenarnya tidak menjadi permasalahan jika kelulusan hanya ditentukan oleh Ujian Nasional saja jika pendidik dan peserta didik siap menghadapinya. Guru tidak mempersiapkan siswa dari awal dan siswapun tidak mempersiapkan diri, karena siswa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kakak angkatannya menjalani ujian. Contekan beredar dimana-mana dan itu sudah menjadi rahasia umum.
Selain kesiapan permasalah terbesar kedua adalah mental manja. Budaya instan dalam menggapai kesuksesan sepertinya telah tertanam dan sekarang sangat sulit mencabutnya. Kita terlalu dimanjakan oleh pendidikan yang ada. Pemikiran pasti naik kelas dan pasti lulus yang sudah menjalar dalam pemikiran peserta didik menambah sulit memberantas akar masalah ini. Lalu bagaimana memutus mata rantai ini? Jawabannya adalah ketegasan.
Guru harus berani mengambil ketegasan dalam proses pendidikan, memberikan nilai yang sebenarnya dan tidak mengkatrol nilai siswa. Dengan begitu pemikiran pasti naik kelas pelan-pelan akan hilang. Dengan tindakan seperti itu siswa akan terbiasa disiplin dalam belajar dan secara otomatis siswa akan lebih siap menghadapi ujian.
Peserta didik akan lebih siap karena setiap ulangan dan ujian semester memang dikondisikan sebagaimana ujian yang sebenarnya. Selama ini peserta didik tertipu dengan kondisi ujian yang selama ini ada. Peserta didik terlalu dimanjakan sehingga tidak mengerti keadaan yang sebenarnya dan tidak bisa membedakan antara ujian dan ulangan harian.

Rabu, 26 Oktober 2011

Catatan Harian Wilayah


Malam siang berlalu,
Gerhana kesayuan tiada berkesudahan
Detik masa berlalu,
Tiada berhenti oh syahdunya..
Ingatkah kawan akan syair itu? Penggalan syair yang disenandungkan oleh Nasyid Brother memiliki makna yang dalam. Dalam syair itu melukiskan hari-hari terus berganti, waktu terus melaju dan hidup terus berjalan, tidak pernah berhenti hingga jiwa terpisah dengan jasadnya.
Lalu muncul sebuah pertanyaan mengusik hati kami, akankah terus begini dan seperti ini? membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa ada manfaat dan ilmu yang meningkat? Tentu tidak, bagi orang-orang yang berpikir ia akan memanfaatkan waktu tersebut untuk mencari ilmu. Ilmu? Bukankah selama kita kuliah kita mendapat ilmu? Ya, memang kita mendapat ilmu, akan tetapi ilmu yang ini berbeda. Ilmu yang tidak didapat dari mata kuliah yang ada. Ilmu yang hanya diajarkan oleh pengalaman kehidupan.
Permasalahannya adalah kami di UPP2 atau kampus 3 UNY–begitu kami menyebutnya- lebih senang dengan nama kampus 3 ketimbang UPP2. Entah mana yang benar, apakah UPP2 atau Kampus 3? tak perlu diperdebatkan lebih lanjut yang jelas kami berada di wilayah, jauh dari kampus pusat dan lebih senang menyebut dengan kampus 3. Sedangkan segala kegiatan dan agenda selalu diadakan dipusat tentu mempersulit teman-teman disini untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu yang lebih. Akses informasi yang tidak lancar bahkan lebih sering tak tersampaikan, jarak yang memisahkan dan menyulitkan kami dalam mobilitas sehingga sangat menyita waktu dan tenaga.
Keadaan yang jauh dari pusat mengakibatkan teman-teman kesulitan dalam menggapai ilmu. Waktu akan tersita banyak jika tetap mengandalkan agenda di pusat semata, oleh karena itu kami menyibukkan diri untuk memperbaiki diri dengan berbagai agenda disini.
Kesibukan dimulai pada selasa sore, ada agenda Madrasah Thulabiyah bersama Ustadz Sigit Nursyam. Pembelajaran tentang aqidah yang dibawakan Ustadz sangat menarik dan memberikan kami pengertian dan pemahaman lebih mengenai aqidah.
Hari rabu ada kajian yang rutin diselenggarakan di Pendopo Kampus 3 tiap minggunya. Setiap rabu sore diadakan kajian dan yang membuat kajian ini lebih ramai adalah teman-teman mahasiswa banyak yang mengikutinya. Ya, tidak hanya pengurus KMIP saja namun mahasiswa non penguruspun tidak canggung untuk duduk bersama dalam majelis ilmu ini. kritikan dan masukkan teman-teman semua menjadi masukkan yang berharga dalam kemajuan majelis ini.
Kini hari berganti kamis, teman-teman masih semangat dalam mencari ilmu. Karena di Kampus 3 hanya ada 2 Program Studi yakni PG-PAUD dan PGSD yang mayoritas adalah kaum hawa maka diadakan kajian khusus untuk kaum hawa, pokoknya SPECIAL buat akhwat (ga pake telur ya... he...). Agenda kamis ada kajian kemuslimahan yang diadakan tiap bulan. Kajian khusus akhwat ini mendapat tempat di hati mahasiswa kampus 3 dan peserta yang hadir cukup antusias.
Kamis sore ada forum Sahabat Pena, forum ini diadakan kepada teman-teman yang berminat di bidang kepenulisan, baik itu cerpen, puisi, essay maupun opini tidak menjadi persoalan, yang jelas bagi yang minat menulis disinilah tempatnya. Dengan didampingi Mbak Wahtini atau biasa dipanggil Mbak Tin teman-teman yang tergabung dalam Sahabat Pena menjadi semakin bersemangat untuk menulis.
Hari jumat, bagi sebagian besar mahasiswa kampus 3 tidak ada jadwal kuliah, hanya sebagian kecil saja. Namun semangat untuk beramal dan mencari ilmu belum juga surut. Jumat pagi teman-teman sibuk membersihkan mushola, teman-teman tergabung dalam Remaja Mushola Darul Fatih senantiasa berkumpul untuk membenahi Mushola kampus 3 tercinta.
Mushola adalah milik bersama, milik semua orang Islam, tidak hanya milik KMIP (Keluarga Muslim Ilmu Pendidikan) semata. Spirit inilah yang akhirnya diwujudkan dalam pembentukan Remaja Mushola (ReMush). Pengurus Mushola Darul Fatih ini tidak hanya teman-teman yang di KMIP saja tetapi yang bukan pengurus KMIP-pun sangat diharapkan bergabung.
Agus Purwanto, mahasiswa PGSD 2010 menjadi ketua ReMush Darul Fatih. Agus yang non pengurus KMIP diharapkan dapat mewakili seluruh mahasiswa muslim ilmu pendidikan di kampus 3.
Begitulah kegiatan setiap teman-teman di Kampus 3 dalam mengisi hari-harinya. Semangat mencari ilmu, berbagi dan saling memberi inilah yang menjadikan kami kuat.
Sejenak kuterkenang
Hakekat perjuangan
Penuh onak dan cabaran
Bersama teman-teman
Harungi kehidupan oh indahnya
Wahyu Nugroho PGSD FIP 2009

Tidak Ada Yang Salah Dengan Komik


Membosankan, itulah kesan kebanyakan orang dengan kegiatan membaca. Membaca adalah kegiatan yang tidak digemari oleh kebanyakan orang Indonesia. Berdasarkan laporan Bank Dunia No. 16369-IND, dan Studi IEA (International Association for the Evalution of Education Achievermen) di Asia Timur, tingkat terendah membaca anak-anak di pegang oleh negara Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6); Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5)
Sedangkan dengan kegiatan membaca kita bisa melihat dunia, berbagai ilmu pengetahuan dan informasi ada didalamnya. Permasalahan utama adalah bagaimana menanamkan minat baca pada anak. Orang tua memiliki peran sangat besar pada masa awal perkembangan minat baca pada anak, kini banyak orang tua yang sadar akan pentingnya membaca maka dari itu orang tua menyuruh anaknya membaca buku pelajaran dan buku-buku tebal lainnya. Maksud orang tua benar mengajarkan anak untuk rajin membaca, namun ada hal yang terlupakan. Anak yang tidak biasa membaca akan sulit mengubah kebiasaannya, terlebih buku yang langsung diberikan merupakan bahan bacaan yang termasuk berat.
Menanamkan minat baca sejak dini merupakan salah satu cara terbaik. Ada hal yang menarik dari sikap orang tua terhadap bahan bacaan anaknya, ketika anak ingin membaca komik orang tua melarang mereka. Orang tua menuntut anaknya hanya membaca buku pelajaran. Apakah salah jika anak membaca komik?
Ada banyak tuduhan-tuduhan miring yang ditujukan kepada komik. Orang tua masih menganggap komik tidak memiliki dampak positif  bagi perkembangan anak dan bahkan cenderung negatif. Orang tua beranggapan komik akan membuat anaknya menjadi malas, tidak semangat untuk belajar dan membodohkan, jika nilai raport anak ada yang berwarna merah maka komik akan dijadikan kambing hitam.
Saya menilai justru komik memiliki peran yang positif bagi perkembangan awal minat baca anak. Pada anak usia dini minat kepada membaca masih sangat kurang, diakarenakan bahan bacaan hanya berupa teks tanpa disertai gambar animasi ataupun warna-warna yang dapat menarik bagi anak-anak. Daya konsentrasi anakpun masih belum optimal, sehingga sulit bagi anak untuk konsentrasi dalam membaca dan mencerna isi di dalamnya.
Orang tua sering mengalami kesulitan untuk memberikan penjelasan dan contoh kepada anak. Anak usia dini sulit menangkap dan mencerna hal-hal yang bersifat abstrak seperti karakter, rajin, gigih, pantang menyerah, pemberani, menolong sesama, dan sebagainya. Hal ini dapat diatasi dengan pendampingan orang tua ketika membaca komik terutama produksi jepang. Komik dari jepang sarat akan nilai-nilai tersebut, seperti komik Doraemon misalnya, banyak mengajarkan arti usaha, harus berusaha keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan tidak dengan cara instan, serta komik-komik lainnya banyak mengandung hal-hal positif.
Akan lebih bijaksana orang tua menjadikan komik sebagai motivator untuk membaca. Bukan menjadikannya musuh. Jadikan komik sebagai rangsangan awal anak untuk gemar membaca, setelah anak akrab dengan buku bacaan maka orang tua meningkatkan bahan bacaan ke cerita anak, dongeng, cerpen dan seterusnya.
Saya tidak menyarankan orang tua untuk menjadikan komik sebagai bacaan awal anak, karena masih banyak cara yang lain dalam menanamkan minat baca anak, namun saya hanya ingin meluruskan perspektif orang tua terhadap komik. Semua akan dikembalikan kepada orang tua sejauh mana mereka mampu menuntun anaknya menjadikan buku sebagai sahabat mereka.
Pendampingan orang tua sangat perlu dilakukan. Ketidakterlibatan orang tua dalam aktivitas membaca mengakibatkan minat membaca anak tetap rendah (Grolnick dkk, 1997) orang tua bertugas mendampingi, menseleksi bahan bacaan dan menanamkan hikmah atau pelajaran dari cerita tersebut. Yang terpenting ialah menumbuhkan rasa cinta anak untuk membaca.

Senin, 16 Mei 2011

Nostalgia Upacara

Oleh : Ardhyta - Pegiat Sahabat Pena
Percayakah? Upacara Senin, 2 Mei 2011 lalu dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional adalah upaca perdana bagi mahasiswa kampus Bantul. Informasi ini didapatkan dari ketua HIMA Kampus 3, saudara Alex Dwi Kurnia. “Upacara terakhir kali dilaksanakan di Kampus UPP II pada tahun 1998”, tandasnya. Itu berarti upacara yang dilaksanakan di Kampus UPP II baik upacara setiap Hari Senin maupun upacara peringatan hari-hari nasional sudah tidak pernah lagi diadakan sejak itu. Miris bukan?! Di kandang tonggak kejayaan bangsanya sendiri, jasa-jasa pahlawan tidak dihargai.
Mengapa upacara di kampus kita jarang dilaksanakan? Ada beberapa kemungkinan, pertama pelaksanaan upacara serentak dilaksanakan di Rektorat Karangmalang dari seluruh fakultas namun tidak mungkin seluruh mahasiswa hadir . Karena melihat situasi dan keadaan tempat yang tidak mungkin menampung seluruh mahasiswa UNY.

Kemungkinan kedua adalah kurangnya penghargaan mahasiswa sendiri terhadap peringatan Hari Besar Nasional. Paling tidak mahasiswa bisa berinisiatif untuk mengadakan upacara yang dikoordinir oleh mahasiswa sendiri dengan meminta beberapa dosen untuk mendampingi prosesi upacara tanpa perlu dikeluarkan surat tugas untuk diadakannya upacara di masing-masing wilayah dan fakultas.

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat

Oleh Yudhistira ANM Massardi


KOMPAS.com - Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai, --katakanlah hingga dua dekade ke depan--, yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur. Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur.

Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun.

Dalam "kalimat lain", ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya. Jadi, untuk apa sebenarnya generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi?

Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jika sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?

Minggu, 15 Mei 2011

Manfaatkan Masa Kuliahmu

Oleh Wahyu Nugroho

Tak lihatkah jarum jam berputar, dan terus berputar. Lihatlah kawan sekali lagi, dengan cermat dan

hati-hati, lihatlah jarum jam, lihatlah jarum penanda menit dan lihatlah jarum yang menunjukan detik itu. Tak pernah berhenti berputar (kecuali kalo beterai habis he..he..) waktu akan terus berlalu.

Empat tahun kita akan berada disini menyandang gelar sebagai mahas

iswa. Menurut kawan-kawan, apakah 4 tahun itu waktu yang lama? Mngkin bagi sebagian orang itu waktu yang lama untuk mendapatkan selembar kertas, sehingga ketika kita tanda tangan maka di belakang nama terdapat rangkaian kata S.Pd. akan tetapi jika kawan sekalian disini, dikampus ini bertujuan untuk mencari ilmu, maaf saya katakan 4 tahun adalah waktu yang sangat singkat. Sangat-sangat singkat.

Ilmu itu sangat luas, benar-benar luas. Semakin kita mencari ilmu, semkain kita mendalami sesuatu, maka kita akan merasa semakin bodoh dan semakin banyak yang tidak kita tahu. Apakah kawan-kawan juga merasa demikian? Jika kawan sekalian tidak merasa, atau malah berpikir saya ini pintar, saya ini pandai dan sebagainya maka saya sampaikan pesan hati-hatilah dengan kesombongan.

Ilmu tidak hanya didapat di dalam kelas, ilmu tidak hanya didapat dari dosen dan guru, ilmupun tidak selalu diperoleh dari buku. Karena ilmu ada dimana-mana dan ilmu itu ada disekeliling kita. Di organisasi, baik itu di kampus maupun di lingkungan tempat tinggal, di lembaga-lembaga sosial, di dalam pergaulan, dan disetiap kejadian kita dapat mengambil ilmu (pelajaran) didalamnya.

Dalam organisasi misalnya, mereka bukanlah orang yang kurang kerjaan dan mencari-cari kesibukan, akan tetapi orang yang selalu ingin belajar. Belajar berorganisasi, belajar berkorban dan bekerjasama mengesampingkan ego yang ada, belajar berbagi dan bersosialisasi. Bersosialisasi? Ya, karena suatu saat nanti kita dituntut untuk bekerjasama dengan orang lain yang bahkan tidak kita senangi. Dalah hal sederhananya seperti ini, ketika di dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok dan orang itu tidak mau satu kelompok dengan Si B atau Si C, dia ingin satu kelompok dengan si D misalnya, maka dia salah satu ciri orang yang tidak bisa bekerjasama.

Empat tahun lamanya, akankah kita habiskan hanya untuk kuliah dan berdiam diri di kamar kos? Tidakkah tertarik untuk keluar dari zona kenyamanan bersama teman-teman yang lain?

Waktu tak pernah berhenti, siang dan malam silih berganti, akan terus begini dan seperti ini hingga di kubur nanti. Tak peduli walau engkau diam tak berbuat apa atau engkau bersusah payah bekerja.

Ketika kau lihat siang, maka malam kan menjelang. Ketika kau lihat rembulan maka pagi kan datang. Lalu apa yang telah kita lakukan, membiarkan waktu datang dan terbuang? Atau kita memanfaatkan dengan penuh kebermanfaatan? Semuanya ada dalam pilihan.

Masa Muda Masa Berkarya

Kaum muda adalah penggerak bangsa. Tumpuan dan harapan Indonesia. Generasi yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Itulah impian kaum tua kepada kaum muda.

Banyak permasalahan yang ada, bukan untuk direnungkan, bukan pula sekedar untuk didiskusikan tapi di selesaikan. Banyak diskusi-diskusi yang ada hanya sebagai sebuah eksistensi kelompok dan juga sekedar meramaikan kampus belaka, namun kehilangan esensi diskusi. Ya, sebenarnya untuk apa kita semua duduk melingkar bersama teman-teman “seperjuangan”, untuk apa kita semua berdebat hingga larut malam? Untuk menyelesaikan permasalahan tentunya.

Retorika-retorika hanya akan jadi sampah. Silat lidah hanya menghabiskan tenaga tanpa mengurangi permasalahan yang ada, bahkan malah menambah masalah. Cukup sudah untaian kata dan kalimat seperti orang yang dimabuk cinta. Mahasiswa bukanlah pujangga.

Berbuat sesuatu yang dapat bermanfaat untuk bangsa dan negara adalah kebanggaan, lalu pertanyaannya adalah apa yang bisa kita lakukan? Lakukan apa yang kita bisa. Itu kunci utama, sebuah pemikiran hanya akan jadi angan-angan jika tidak dilaksanakan. Seperti orang yang bermimpi, semua akan hilang ketika bangun dipagi hari. Sekecil apapun bentuk usaha kita akan bermakna ketimbang orasi-orasi dipinggir jalan raya tanpa ada hasil nyata.

Setiap diri kita memiliki kemampuan yang berbeda, tak bisa disamakan dan memang kita beragam. Dengan latar belakang pendidikan yang penuh warna mari kita berbuat sesuatu untuk bangsa. Dengan spesifikasi di bidang masing-masing kita bergandeng tangan lakukan sesuatu semampu kita.

Sekarang sudah sadarkah pemuda indonesia akan perannya dalam membangun bangsa Indonesia? Banyak pula pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan sia-sia, mencari kesenangan semata, dan memenuhi hasrat jiwa dan raga dengan kehampaan dan generasi tua serta pendahulu kita akan kecewa.

Joint With