Minggu, 15 Mei 2011
Masa Muda Masa Berkarya
Kaum muda adalah penggerak bangsa. Tumpuan dan harapan Indonesia. Generasi yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Itulah impian kaum tua kepada kaum muda.
Banyak permasalahan yang ada, bukan untuk direnungkan, bukan pula sekedar untuk didiskusikan tapi di selesaikan. Banyak diskusi-diskusi yang ada hanya sebagai sebuah eksistensi kelompok dan juga sekedar meramaikan kampus belaka, namun kehilangan esensi diskusi. Ya, sebenarnya untuk apa kita semua duduk melingkar bersama teman-teman “seperjuangan”, untuk apa kita semua berdebat hingga larut malam? Untuk menyelesaikan permasalahan tentunya.
Retorika-retorika hanya akan jadi sampah. Silat lidah hanya menghabiskan tenaga tanpa mengurangi permasalahan yang ada, bahkan malah menambah masalah. Cukup sudah untaian kata dan kalimat seperti orang yang dimabuk cinta. Mahasiswa bukanlah pujangga.
Berbuat sesuatu yang dapat bermanfaat untuk bangsa dan negara adalah kebanggaan, lalu pertanyaannya adalah apa yang bisa kita lakukan? Lakukan apa yang kita bisa. Itu kunci utama, sebuah pemikiran hanya akan jadi angan-angan jika tidak dilaksanakan. Seperti orang yang bermimpi, semua akan hilang ketika bangun dipagi hari. Sekecil apapun bentuk usaha kita akan bermakna ketimbang orasi-orasi dipinggir jalan raya tanpa ada hasil nyata.
Setiap diri kita memiliki kemampuan yang berbeda, tak bisa disamakan dan memang kita beragam. Dengan latar belakang pendidikan yang penuh warna mari kita berbuat sesuatu untuk bangsa. Dengan spesifikasi di bidang masing-masing kita bergandeng tangan lakukan sesuatu semampu kita.
Sekarang sudah sadarkah pemuda indonesia akan perannya dalam membangun bangsa Indonesia? Banyak pula pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan sia-sia, mencari kesenangan semata, dan memenuhi hasrat jiwa dan raga dengan kehampaan dan generasi tua serta pendahulu kita akan kecewa.
Rabu, 18 November 2009
Palapa Ring Jilid 2
Jumat, 09 Oktober 2009
Sebanyak 40 Negara Pelajari Bahasa Indonesia
MAKASSAR, KOMPAS.com — Sedikitnya 40 negara di dunia telah mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa asing pada sektor pendidikan, mulai pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
"Bahasa Indonesia semakin banyak diminati oleh masyarakat dunia, terbukti hingga saat ini lebih kurang 40 negara telah mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa asing," kata salah seorang guru besar Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin (Unhas), DR Aspar Rahman di Makassar, Rabu (7/10).
Dia mengatakan, sebagai bukti ketertarikan negara asing mempelajari bahasa Indonesia, pada Oktober 2004 pernah digelar konferensi internasional pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing yang dilaksanakan di Unhas.
Menurut dia, dengan semakin banyaknya pihak yang mempelajari bahasa Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa bahasa yang lahir dari Sumpah Pemuda tersebut memiliki potensi untuk sejajar dengan bahasa lainnya sebagai bahasa asing di dunia.
"Melalui bahasa Indonesia, masyarakat dunia dapat mengenal lebih dekat budaya dan bangsa Indonesia," katanya.
Berkaitan dengan hal tersebut, lanjutnya, tidak mengherankan apabila saat ini sudah banyak lembaga-lembaga bahasa Indonesia yang dikembangkan baik di dalam maupun luar negeri.
"Dengan mengajarkan bahasa Indonesia bagi pihak asing, maka dapat menghubungkan pemahaman lintas budaya melalui pengajaran yang dikembangkan di luar negeri," katanya.
Sementara negara yang paling intens mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing di sekolah, di antaranya Jepang, Malaysia, Singapura, dan Australia.